Kami perusahaan yang bergerak di bidang Chemical Laundry Hospital & Hotel di Semarang, membuka peluang untuk bergabung dan berkembang bersama kami untuk posisi :

ADMINISTRASI

 

Kriteria :

  • Wanita max 30 tahun
  • Pendidikan min SMU
  • Menguasai Komputer (MS Office, Email, Software Penjualan)

 

Fasilitas

  • Gaji Pokok
  • Transport
  • Uang Makan
  • BPJS
  • Jenjang Karir

 

Jika tertarik dan merasa memiliki kriteria tersebut di atas, silahkan kirimkan lamaran lengkap ke email : admin@saranaciptacemerlang.com

 

Surat lamaran harus sudah kami terima paling lambat tanggal 21 Oktober 2017.

Hasil seleksi administratif akan kami umumkan pada tanggal 28 Oktober 2017 dan hanya pelamar yang lolos seleksi yang akan kami panggil untuk mengikuti seleksi selanjutnya.

Lowongan Kerja Admin(1)

DEFINISI DAN BAKU MUTU LIMBAH KEGIATAN RUMAH SAKIT

Definisi baku mutu lingkungan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 menyatakan ”bahwa baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar mahkluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup”.

 

Limbah cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik, kimia, dan biologi (E.W steel,1975). Limbah rumah sakit mengandung berbagai macam  mikroorganisme, tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik). Tentu saja dari jenis-jenis mikroorganisme tersebuat ada yang bersifat patogen. Limbah rumah sakit seperti halnya limbah lain yang akan mengandung bahan-bahan organik dan anorganik, yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji air kotor pada umumnya seperti BOD, COD, TSS, pH, phospat dan lain-lain.

Berikut parameter pengujian beserta definisinya :

A. FISIKA

  1. Zat Padat Tersuspensi (TSS), adalah semua zat padat (pasir, lupurdan tanah liat) atau partikel – partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplakton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detrius dan partikel-pertikel. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 200 mg/L.
  2. Zat Padat Terlarut (TDS), adalah suatu ukuran kandungan kombinasidari semua zat-zat anorganik dan organik yang terdapat di dalam suatu cairan sebagai molekul yang terionkan atau bentuk mikrogranula (sol koloida) yang terperangkap. baku mutu yang ditetapkan adalah 2000 mg/L

B. KIMIA

  1. pH, adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dari larutan. Pengukuran pH (potensial Hidrogen) akan mengungkapkan jika larutan bersifat asam atau alkali (atau basa). Jika larutan tersebut memilki jumlah moekul asam dan basa yang sama pH dianggap netral. pH dianggap netral jika memenuhi baku mutu 6 – 9
  2. Surfactan Anion (MBAS) Detergen, adalah zat yang menyebakan turunnya tegangan permukaan cairan khususnya air. Ini menyebabkan pembentuka gelembung da pengaruh permukaan lainnya yang memungkinkan zat-zat ini bertindak sebagai zat pembersih. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 10 mg/L.
  3. Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan, dinyatakan dengan BOD5 hari pada suhu 20 °C dalam mg/liter atau ppm. Pemeriksaan BOD5 diperlukan untuk menentukan beban pencemaran terhadap air buangan domestik atau industri juga untuk mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air tercemar. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air tercemar oleh zat organik maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses biodegradable berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan pada badan air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau busuk. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 50 mg/L
  4. Chemical Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 80 mg/L
  5. Phospat, adalah sumber utama unsur kalium dan nitrogen yang tidak larut dalam air, Senyawa Phospat dalam air limbah akan menimbulkan permasalahan bagi lingkungan. Keberadaan Phospat yang berlebihan didalam air menyebabkan suatu fenomena yang disebut Eutofikasi (pengkayaan nutrisi), untuk mencegah kejadian tersebut, air limbah yang akan dibuang harus diolah terlebih dahulu untuk mengurangi kandungan fosfat sampai pada nilai tertentu.

Berdasarkan kebijakan pemenuhan baku mutu air limbah bagi kegiatan Rumah Sakit sesuai PERMEN LH No.6 Tahun 2013 tentang program pengelolaan lingkungan hidup, maka parameter phospat tidak dijadikan dasar penilaiaan tingkat penaatan pemenuhan baku mutu tetapi tetap diwajibkan pemantauan secara rutin.

blh-prov-jateng-kebijakan-pemenuhan-baku-mutu-air-limbah-rs

DAFTAR ISTILAH

Anaerobic Bacteria (Bakteri Anaerob) : Tipe bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup

Aerobic Bacteria (Bakteri Aerob) : Tipe bakteri yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup

Anionic (Anion) : Tipe deterjen yang memiliki ion-ion negatif

Bacteria (Bakteri) : Tipe spesifik dari mikroorganisme yang terdisi dari sel tunggal dan tidak dapat terlihat dengan mata telanjang

Binary Fission (Pembelahan Biner) : Metode reproduksi bakteri. Jaringan sel terbagi dan sel tunggal membelah diri menjadi dua

Cationic (Kation) : Deterjen yang memiliki ion-ion positif

Chain of Infection (Rantai Penginfeksian) : Sebuah proses penyebaran mikroorganisme dimana mereka menjadi melekat pada tangan dan menyebar melalui sentuhan kepada benda atau manusia.

Cross-infection (Infeksi/penyebaran silang) : Proses dimana mikroorganisme menyebar dari satu orang ke orang lainnya, mengakibatkan penyakit

Disinfectants (Disinfektan) : Zat yang digunakan untuk membunuh objek sehingga bisa mengurangi mikroorganisme

Droplet Nuclei : Partikel mikroskopik yang menular yang disebarkan saat seseorang dengan tuberkulosis batuk, tertawa, bersin atau bernyanyi

Endospores (Endospora) : Bakteri yang telah bertransformasi menjadi bentuk kering dan mengeras sebagai reaksi dari kondisi lingkungan yang buruk agar tetap bisa bertahan

Facultative Anaerobes (Anaerob Fakultatif) : Bakteri yang beradaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan baik dengan atau tanpa oksigen

Gram-negative : Bakteri yang telah diuji dengan gram-negatif, atau menjadi berwarna merah, dalam proses gram staining

Gram-positive : Bakteri yang telah diuji dengan gram-positif, atau menjadi berwarna biru, dalam proses gram staining

Halogens : Sekumpulan disinfektan yang bahan dasarnya mengandung iodin dan klorin

Hepatitis : Peradangan liver. Hepatitis dapat disebabkan oleh bakteri, fungi, parasit atau virus. Terdapat lima tipe hepatitis yang disebabkan oleh virus yaitu : A,B, C , D, dan E

HIV atau Human Immunodeficiency Virus : Infeksi yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem imun dan dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

Iodophors : Sekelompok disinfektan dengan iodin sebagai bahan dasar

Microbiology (Mikrobiologi) : Studi khusus terhadap organisme mikroskopik seperti bakteri, virus, ragi, fungi, parasit dan jamur.

Nonionic (Nonion) : Tipe deterjen yang tidak bereaksi baik dengan ion positif maupun ion negatif

Nosocomial Diseases (Penyakit Nosocomial) : Penyakit atau infeksi yang diderita oleh pasien seteh masuk ke dalam fasilitas kesehatan, namun penyakit itu belum ada atau berada dalam masa inkubasi pada pasien saat pasien masuk.

Obligate Parasites : Organisme yang bertahan hidup dengan bergantung pada sel inang. Virus termasuk dalam obligate parasite.

Phenols : Sekelompok disinfektan dengan bahan dasar phenol yang apabila diformulasikan dengan tepat sangat efektif dalam melawan mikroba tuberkulosis.

Quarternaries (Kuarterner) : Sekumpulan disinfektan yang berbahan dasar ammonia yang efektif melawan bakteri, fungi dan virus.

Sanitization (Sanitisasi) : Pengurangan populasi mikroba hingga ke tingkat yang dianggap aman dari sisi kesehatan masyarakat

Staphylococcus : Bakteri dengan bentuk bulat yangbertanggung jawab dalam infeksi luka atau keracunan makanan

Steam Autoclaving : Metode sterilisasi yang paling efektif. Metode ini menggunakan uap bertekanan untuk menghancurkan mikroorganisme.

Streptococcus : Bakteri dengan bentuk bulat yang bertanggung jawab terhadap penyakit seperti radang tenggorokan

Surface Tension (Tegangan Permukaan) : Efek dari molekul air yang terikat magnetis di atas permukaan. Unsur wetting dapat mengembalikan efek dari tegangan permukaan.

Tuberculosis (Tuberkulosis) : Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis

Universal Precautions (Pencegahan universal) : Memperlakukan semua darah dan cairan tubuh dengan anggapan mereka semua dapat menularkan penyakit

Virus : Partikel protein dengan kemampuan bereplikasi

DASAR-DASAR DETERGENSI

Deterjen dapat disedkripsikan sebagai “agen pembersih.” Deterjen dapat berkisar dari air bersih hingga pembersih sintetis dengan perkembangan terbaru. Namun, semua deterjen memiliki kemampuan dasar untuk wetting, dispersi, suspensi, emulsifikasi, dan penetrasi. Masing-masing deterjen menunjukkan tingkatan karakteristik yang berbeda. Masing-masing karakteristik menetukan keefektivitasan deterjen yang digunakan.

Wetting

Unsur wetting menjadikan pembersihan untuk permukaan yang lebih luas dilakukan dalam satu waktu yang bersamaan. Molekul-molekul air pada permukaan memiliki kecenderungan untuk melekat satu sama lain dan mengisi ruang terkecil yang tersedia. Efek ini dinamakan tekanan permukaan. Ketika unsur wetting dimasukkan ke dalam air, hal tersebut akan membuat molekul-molekul air ‘mengendur’, mengakibatkan air akan memasuki permukaan yang lebih luas.

Dispersi dan Suspensi

Bersamaan dengan unsur wetting yang menjadikan penetrasi air lebih luas pada permukaan, deterjen terdispersi dan mengangkat kotoran lalu menahan mereka dalam suspensi sehingga kotoran bisa dengan mudah dihilangkan. Hal ini dapat mencegah kotoran mengendap kembali pada permukaan yang telah dibersihkan.

Emulsifikasi

Pengemulsi merupakan zat deterjen additif yang menguraikan lemak seperti minyak dan oli serta mengubah kotoran tersebut menjadi larutan. Karena itulah mereka dapat dengan mudah dihilangkan pada saat pembersihan.

Penetrasi

Penetrasi adalah karakteristik dari deterjen untuk mencapai bagian bawah area yang terkena kotoran lalu “melepaskan” kotoran dari permukaan. Karakteristik ini juga membantu deterjen untuk bekerja menguraikan kotoran di area yang sudah terkena kotoran tersebut.

DETERJEN

Anion

Deterjen Anion memiliki komposisi yang sederhana yang sama seperti sabun mandi, seperti Ivory, yang biasanya digunakan di rumah.

Deterjen Anion cukup baik untuk digunakan dalam pembersihan permukaan. Namun, kemampuan mereka dalam membunuh bakteri tidak sebaik unsur kation, dan efektivitasnya dapat dipengaruhi perubahan pH dengan mudah.

Zat anion cenderung memproduksi busa, yang akan meninggalkan residu pada permukaan dan menghasilkan permasalahan noda baru. Masalah lain pada deterjen anion adalah dari waktu ke waktu, zat anion akan membentuk lapisan pada permukaan, yang membutuhkan pembersihan.

Anion biasanya digunakan untuk wetting, detergensi, emulsifikasi, dan fungsi lain yang berhubungan dengan aktivitas permukaan.

Kation

Deterjen Kation memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan anion. Kation dikenal dengan pembersihan yang lebih lembut, dan beberapa zat kation sangat baik untuk germisida dan fungisida. Kation tidak bisa digunakan bersamaan dengan anion dan biasanya diformulasikan dengan deterjen nonion untuk membuat sebuah deterjen serbaguna/disinfektan.

Nonion

Deterjen nonion memiliki sifat detergensi yang paling baik dan sangat stabil baik di air keras ataupun air asam. Nonion tidak bersifat germisida dan memiliki kemampuan rendah dalam membentuk busa. Nonion juga tidak meninggalgan lapisan pada permukaan , jadi tidak dipelukan proses pembilasan.

Kation dan nonion dikombinasikan untuk meningkatkan proses pembersihan dan diformulasikan untuk menyediakan deterjen desinfektan dalam satu langkah.

Mengapa deterjen dikombinasikan dengan desinfektan?

Kotoran yang ditemukan di permukaan memberikan perlindungan bagi mikroorganisme. Bakteri biasanya ditemukan dalam bentuk kumpulan, daripada dalam bentuk sel tunggal. Deterjen yang baik akan menghilangkan kotoran, bukan hanya memisahkan mikroorganisme dari perlindungannya namun juga menghancurkan kumpulan bakterinya. Hal ini menjadikan desinfektan untuk melakukan kontak langsung dengan bakteri dan meningkatkan tingkat penghancurannya. Untuk alasan ini, deterjen yang baik dengan disinfektan yang buruk lebih bagus dibandingkan deterjen yang buruk dengan disinfektan yang baik.

Iodophors

Iodophors adalah golongan disinfektan dengan iodin sebagai bahan dasarnya. Mereka sangat efektif dalam menghilangkan spektrum yang luas dari mikroorganisme jika tingkat pH dari produk tersebut kurang lebih 3.5. Hasil pembersihan dari iodophors tidak baik ketika mereka diformulasikan untuk menjadi disinfektan yang efektif. Iodophors berubah menjadi tidak aktif jika mereka melakukan kontak dengan deterjen anion. Produk ini dapat menodai kulit dan pakaian serta dapat mengganggu evaluasi tes kimia.

Halogen

Disinfektan berbahan halogen adalah disinfektan yang sering ditemukan untuk pemakaian rumahan, seperti pemutih klorin. Iodin yang diformulasikan menjadi iodophors juga merupakan halogen. Halogen harus digunakan dengan permukaan yang bersih, karena mereka menjadi tidak aktif oleh kotoran yang berasal dari protein. Mereka bersifat korosif terhadap metal dan gunakan bersama air dingin untuk menjaga karakter disinfekinya. Mereka harus dibuat baru setiap penggunaan.

Phenols

Phenols adalah disinfektan yang berfungsi sangat baik pada pH 6-7. Phenolics tidak bisa digunakan bersama dengan deterjen nonion atau kation. Rasio deterjen yang dicampurkan dnegan phenol harus tetap sedikit dikarenakan efektivitas terhadap mikroorganisme akan banyak berkurang jika rasio deterjen terlalu tinggi. Phenol memiliki efektivitas melawan mikroba tuberkulosis. Phenol dapat diabsorbsi oleh kulit dan kontak langsung dengan permukaan yang bersih dapat berakhir dengan iritasi kulit. Pemaparan langsung terhadap kulit oleh produk dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan iritasi dan keracunan. Mengkombinasikan phenols dengan deterjen anion cenderung akan menonaktifkan phenol yang akan berakibat pada hasil pembersihan yang dilakukan untuk mempertahankan keberhasilan. Phebol tidak boleh digunakan dalam lingkungan dimana anak-anak dapat melakukan kontak langsung dengan permukaan yang bersih. Phenol memiliki aroma yang kuat dan dapat merusak lantai.

Quarternaries (Kuartener/Surfaktan)

Pembersih dengan bahan dasar quartenary ammonium merupakan deterjen/disinfektan yang sangat efektif. Kuartener diformulasikan dengan deterjen nonion dan tidak bisa dicampur dengan deterjen anion. Mereka bekerja sangat baik pada pH alkali 9-10. Kuartener memiliki tingkat toksin dan iritasi yang rendah serta memberikan tingkat kemampuan disinfektan yang bagus dan luas terhadap bakteri, fungi dan virus. Disinfektan ini tidak bernoda dan tidak korosif. Kuartener tidak efektif dalam melawan mikroba tuberkulosis, namun beberapa formula efektif terhadap HVB dan HIV, selain itu formula tipe ini seharusnyadipertimbangkan untuk menjadi pembersih dari darah atau tumpahan zat lain yang berpotensi menular.

Perhatikan selalu prosedur yang tepat dalam penggunaan produk disinfektan ini. Ikuti tata cara yang dimiliki oleh fasilitas anda dan selalu gunakan peralatan yang tepat saat menggunakan disinfektan.

BAGAIMANA CARA MEMILIH DETERJEN/DISINFEKTAN

Semua produk memiliki keunggulan yang beragam untuk dipertimbangkan.

Analisa kebutuhan anda:

  • Kecocokan : Cari tahu apakah deterjen/disinfektan yang digunakan cocok dan efektif dalam pencampuran
  • Klaim produk : Setiap formulasi memiliki keunikan tersendiri; keterangan yang terdapat pada setiap label produk harus diperiksa dan dipertimbangkan untuk kebutuhan pembersihan dan disinfektan fasilitas anda.
  • Penggunaan : Tentukan apakah disinfektan akan digunakan untuk rumah sakit atau institusi
  • Air keras : Cari tahu bagaimana disinfektan berinteraksi dengan air keras

Memilih produk yang paling efektif

Spektrum yang luas : Cari produk yang dapat membunuh berbagai macam mikroorganisme sekaligus. Produk itu bisa berbentuk bakterisidal, virusidal, dan fungisidal. Bahkan mikroorganisme yang tidak dapat merugikan manusia dapat menyerang yang lain dan memproduksi zat kimia yang memunculkan bau tidak sedap, korosi atau noda.

Kemampuan zat pembersih : Pilih deterjen yang efektif. Hal ini akan membantu disinfektan untuk melakukan tugasnya dengan seksama menghancurkan mikroorganisme.

Mudah untuk digunakan :Pilih kombinasi efektif dari deterjen/disinfektan yang akan melakukan proses pembersihan dan pengendalian bau yang tidak sedap sekaligus.

KESIMPULAN

Bahan referensi ini telah mendiskusikan pentingnya disinfeksi yang tepat untuk mencegah penyebaran penyakit yang menular. Dengan memahami konsep mikrobiologi dan bagaimana mikroorganisme berkembang dan menyebar, anda dapat mengetahui lebih baik tentang pentingnya proses pembersihan yang efektif dan disinfeksi permukaan. Mengaplikasikan pencegahan universal dalam setiap aspek pekerjaan anda dan memilih deterjen serta disinfektan yang tepat dapat membantu anda dalam pencegahan menyebarnya penyakit yang menular.

  1. Bahaya Mikrobiologi

Bahaya mikrobiologi adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh mikroorganisme hidup seperti bakteri, virus, ricketsia, parasit dan jamur. Petugas pencucian yang menangani linen kotor seantiasa kontak dengan van dan menghirup udara yang tercemar kuman patogen. Penelitian bakteriologis pada instalasi pencucian menunjukkan bahwa jumlah total bakteri meningkat 50 kali selama periode waktu sebelum cucian mulai diproses.

 

Mikroorganisme tersebut adalah :

* ) Mycobacterium tuberculosis

  • Mycobacterium tuberculosis adalah mikroorganisme penyebab tuberculosis dan paling sering menyerang paru – paru (+_90%). Penularannya melalui perciban atau dahak penderita.
  • Pencegahan :
    • Meningkatkan pengertian dan kepedulian petugas rumah sakit terhadap penyakit TBC dan penularannya.
    • Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik dalam ruangan instalasi pencucian.
    • Menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai SOP.
    • Melakukan tindakan dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi terhadap van dan alat yang digunakan.
    • Secara tekhnis setiap petugas harus melaksanakan tugas pekerjaan sesuai SOP.

 

* )Virus Hepatitis B

  • Selain manifestasi sebagai hepatitis B akut dengan segala komplikasinya, lebih penting dan berbahaya lagi adalah manifestasi dalam bentuk sebagai pengidap (carrier) kronik, yang dapat merupakan sumber penularan bagi lingkungan.
  • Penularan dapat melalui darah dan cairan tubuh lainnya.
  • Pencegahan :
    • Meningkatan pengetahuan dan kepedulian petugas rumah sakit terhadap penyakit hepatitis B dan penularannya.
    • Memberikan vaksinasi pada petugas.
    • Menggunakan APD sesuai SOP.
    • Melakukan tindakan dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi terhadap bahan dan peralatan yang dipergunakan terutama bila terkena bahan infeksi.
    • Secara tekhnis setiap petugas harus melaksanakan tugas pekerja sesuai SOP.

* ) Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus)

  • Penyakit yang ditimbulkannya disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Virus HIV menyerang target sel dalam jangka waktu lama. Jarak waktu masuknya virus ke tubuh sampai timbulnya AIDS bergantung pada daya tahan tubuh seseorang dan gaya hidup sehatnya.
  • HIV dapat hidup di dalam darah, cairan vagina, cairan sperma, air susu ibu, sekreta dan ekskreta tubuh.
  • Penularannya melalui darah, jaringan, sekreta, ekskreta tubuh yang mengandung virus dan kontak langsung dengan kulit yang terluka.
  • Pencegahan :
    • Linen yang terkontaminasi berat ditempatkan dikantong plastic keras yang berisi desinfektan, berlapis ganda, tahan tusukan, kedap air dan berwarna khusus serta diberi label bahan menular/AIDS selanjutnya dibakar.
    • Menggunakan APD sesuai SOP.

2. Bahaya Bahan Kimia

* ) Debu

Pada instalasi linen debu dapat berasal dari bahan linen itu sendiri

  • Pengukuran

Dengan memakai alat Vertical Elutriol Cotton Dust Sampler dapat diukur banyaknya debu dalam ruangan dan Personal Dust Sampler. Debu linen (cotton dust) yang sesuai NBA adalah 0,2 milligram/m3.

  • Efek kesehatan

Mekanisme penimbunan debu dalam paru – paru dapat terjadi dengan menarik napas sehingga udara yang mengandung debu masuk ke dalam paru – paru. Partikel debu yang dapat masuk ke dalam pernapasan mempunyai ukuran 0,1 – 10 mikron.

 

Pada pemajanan yang lama dapat terjadi pneumoconiosis, dimana partikel debu dijumpai di paru – paru dengan gejala sukar bernapas. Pneumoconiosis yang disebabkan oleh serat linen/kapas dsebut bissinosis. Gejala bissinosis hampir sama dengan asma yang disebut Monday Chest Tightness atau Monday Fever, karena gejala terjadi pada hari pertama kerja setelah libur yaitu senin, sering gejala hilang pada hari kedua dan bila pemaparan berlanjut maka gejala makin berat.

  • Pengendalian
    • Pencegahan terhadap sumber

Diusahakan agar debu tidak keluar dari sumbernya dengan mengisolasi sumber debu.

  • Memakai APD sesuai SOP
  • Ventilasi yang baik
  • Dengan alat local exhouster

3. Bahaya Fisika

* ) Bising

Dalam kesehatan kerja, bising diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan pendengaran baik secara kuantitatif (peningkatan ambang pendengaran) maupun secara kualitatif (penyempitan spektrum pendengaran), berkaitan dengan faktor intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu. Di rumah sakit, bising merupakan masalah yang salah satunya berasal dari mesin cuci. Pajanan bising yang terjadi pada intensitas relatif rendah (85 dB atau lebih), dalam waktu yang lama membuat efek kumulatif yang bertingkat dan menyebabkan gangguan pendengaran berupa Noise Induce Hearing Loss (NIHL).

  • Pengukuran

Untuk mengetahui intensitas bising di lingkungan kerja, digunakan sound level meter, sedangkan untuk menilai tingkat pajanan pekerja lebih tepat digunakan noise dose meter karena pekerja umumnya tidak menetap pada suatu tempat kerja selama delapan jam ia bekerja. Nilai ambang batas (NAB) intensitas bising adalah 85 dB dan waktu bekerja maksimum adalah delapan jam per hari.

  • Pengendalian
  • Sumber : mengurangi intensitas bising
    • Desain akustik
    • Menggunakan mesin/alat yang kurang bisisng
  • Media : mengurangi transmisi bising dengan cara
  • Menjauhkan sumber dari pekerja
  • Mengabsorbsi dan mengurangi pantulan bising secara akustik pada dinding, langit – langit dan lantai
  • Menutup sumber bising dengan barrier
  • Pekerja : mengurangi peneriman bising
  • Menggunakan APD

Berupa sumbat telinga (ear plug) yang dapat menurunkan pajanan sebesar 6 – 30 dB atau penutup telinga (ear muff) yang dapat menurunkan 20 – 40 dB.

  • Ruang isolasi untuk istirahat
  • Rotasi pekerja untuk periode waktu tertentu antara lingkungan verja yang bising dengan yang tidak bising
  • Pengendalian secara administratif dengan menggunakan jadwal verja sesuai NAB.

* ) Cahaya

  • Pencahayaan di instalasi pencucian perla karena ia berhubungan langsung dengan :
  • Keselamatan petugas
  • Peningkatan pencermatan
  • Kesehatan yang lebih baik
  • Suasana yang nyaman
    • Petugas yang terpajan gangguan pencahayaan akan mengeluh kelelahan mata dan kelainan lain berupa :
  • Iritasi (konjungtivitis)
  • Ketajaman penglihatan terganggu
  • Akomodasi dan konvergensi terganggu
  • Sakit kepala
    • Pencegahan : dengan pencahayaan yang cukup sesuai dengan Standard rumah sakit (minimal 200 Lux)

* ) Listrik

  • Kecelakaan tersengat listrik dapat terjadi pada petugas laundry oleh karena dukungan pengetahuan listrik yang Belem memadai. Pada umumnya yang terjadi di rumah sakit adalah kejutan listrik microshok dimana listrik mengalir ke badan petugas melalui sistem peralatan yang tidak baik.
  • Efek kesehatan
  • Luka bakar di tempat tersengat aliran listrik
  • Kaku pada otot ditempat yang tersengat listrik
  • Pengendalian :
  • Enginering
    • Pengukuran jaringan/instalasi listrik
    • NAB bocor arus 50 milliamper, 60 Hz (sakit)
    • Pemasangan pengaman/alat pengaman sesuai ketentuan
    • Pemasangan tanda – tanda bahaya dan indikator
  • Administrasi
  • Penempatan petugas sesuai keterampilan
  • Waktu kerja petugas digilir
  • Memakai sepatu/sandal isolasi

* ) Panas

  • Panas dirasakan bila suhu udara di atas suhu nyaman (26 – 28 oC) dengan kelembaban antara 60 – 70%. Pada instalasi laundry panas yang terjadi adalah panas lembab.
  • Pengukuran : dengan mempergunakan Wet Bulb Globe Temperatur (MBGT)
  • Efek kesehatan :
  • Heat Syncope (pingsan karena panas)
  • Heat Disorder (kumpulan gejala yang berhubungan dengan kenaikan suhu tubuh dan mengakibatan kekurangan cairan tubuh) seperti :
  • Heat sress/heat exhaustion, terasa panas dan tidak nyaman, karena dehidrasi, tekanan darah turun menyebabkan gejala pusing dan mual.
  • Heat cramps adalah spasme otot yang disebabkan cairan dengan elektrolit yang rendah, masuk ke dalam otot, akibat banyak cairan tubuh keluar melalui keringat, sedangkan penggantiannya hanya air minum biasa tanpa elektrolit.
  • Heat stroke disebabkan kegagalan bekerja SSP dalam mengatur pengeluaran keringat, suhu tubuh dapat mencapai 40,5oC.
    • Pengendalian
  • Terhadap lingkungan
    • Isolasi peralatan yang menimbulkan panas.
    • Menyempurnakan sistem ventilasi dengan :
      • Kipas angin untuk petugas
      • Pemasangan alat pendingin
    • Terhadap pekerja :
      • Menyediakan persediaan air minum yang cukup dan memenuhi syarat dekat tempat kerja dan kalau perlu disediakan extra salt.
      • Hindarkan petugas yang harus bekerja di lingkungan panas apabila berbadan gemuk sekali dan berpenyakit kardiovaskular.
      • Pengaturan waktu kerja dan istirahat berkaitan dengan suhu ruangan.
    • Secara administratif yaitu pengaturan waktu kerja dan istirahat berkaitan dengan suhu ruangan

* ) Getaran

  • Getaran atau vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh subjek dengan gerakan osilasi. Vibrasi dapat terjadi lokal atau seluruh tubuh
  • Mesin pencucian yang bergetar dapat memajani petugas melalui transmisi/penjalaran, baik getaran yang mengenai seluruh tubuh ataupun getaran setempat yang merambat melalui tangan atau lengan operator
  • Efek kesehatan
  • Terhadap sistem peredaran darah : dapat berupa kesemutan jari tangan waktu bekerja, parese.
  • Terhadap sistem tulang, sendi dan otot, berupa gangguan osteoarticular (gangguan pada sendi jari tangan)
  • Terhadap sistem syaraf : parastesi, menurunnya sensivitas, gangguan kemampuan membedakan dan selanjutnya atrofi.
  • Pemajanan terhadap getaran seluruh tubuh dengan frekuensi 4 – Hz dan 6-12 Hz dikaitkan dengan fenomena resonansi (kenaikan ampliyudo getaran organ), terutama berpengaruh buruk pada susunan saraf pusat.
  • Pengukuran : alat yang digunakan adalah Vibration Meter (alat untuk mengukur frekuensi dan intensitas di area kerja)
  • Pengendalian :
  • Terhadap sumber, diusahakan menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi/isolator dan pemeliharaan mesin yang baik.
  • Pengendalian administratif dilakukan dengan pengaturan jadwal kerja sesuai TLV (Tresbold Limit Value)
  • Terhadap pekerja, tidak ada perlindungan khusus, hanya dianjurkan menggunakan sarung tangan untuk menghangatkan tangan dan perlindungan terhadap gangguan vaskular.
  1. Ergonomi
    • Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi adalah penyesuaian tugas pekerjaan dengan pekerja. Posisi tubuh yang salah atau tidak ilmiah, apabila dalam sikap paksa dapat menimbulkan kesulitan dalam melaksanakan kerja, mengurangi ketelitian, mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien. Hal ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologi.
    • Gejala : penyakit sehubungan dengan lat gerak yaitu persendian, jaringan otot, saraf atau pembuluh darah (low back pain).
    • Pengukuran : dinilai dari banyaknya keluhan yang ada hubungannya pada saat melakukan pekerjaan.
    • Pengendalian

Mengangkat barang berat

Tubuh kita mampu mngangkat beban seberat badan sendiri, kira – kira 50 kg bagi laki – laki dewasa dan 40 kg bagi wanita dewasa. Lebih dari itu, besar kemungkinan terjadi bahaya. Bila berat beban yang akan diangkat lebih dari setengah dari berat badan si pengangkat (lebih dari 25 kg untuk laki – laki atau lebih 20 kg untuk wanita) maka beban haru dibagi dua.

Cara mengankat beban yang beratnya kurang drai 25 kg :

  • Sebaiknya tidak dijunjung, oleh karena menjunjung barang memerlukan tenaga yang lebih besar.
  • Mengangkat beban di samping
  • Mendekat ke badan/barang
  • Renggangkan kedua kaki, barang berada di antara kedua kaki sedikit di sebelah depan
  • Luruskan tulang punggung (boleh melengkung) dan badan sedikit dicondongkan ke depan
  • Badan diturunkan dengan sedikit membengkokkan lutut dan panggul sampai tangan dapat mecapai barang
  • Lengan atas harus sedekat atau serapat mungkin ke badan dan tangan memegang barang
  • Angkat barang ke atas perlahan – lahan, jangan di sentakkan atau direnggutkan. Sewaktu mengangkat ke atas tulang punggung harus tetap lurus, tegangkan dan kencangkan otot perut.

Cara mengangkat beban yang beratnya lebih dari 25 kg :

  • Beban dapat dibagi dua

Bila beban dapat dibagi dua, beban tersebut boleh diangkat oleh satu orang. Bagi dua beban dan gunakan pemikul, separuh beban di depan dan separuh di belakang.

  • Beban tidak dapat dibagi

Bila beban yang hendak diangkat lebih dari separuh berat badan dan tidak dapat dibagi, maka hendaklah diangkat berdua atau beramai – ramai. Cara terbaik adalah dengan membuat penggantung (cantelan) pada barang dan mengangkatnya dengan tongkat pemikul. Satu orang di depan dan satu orang di belakang, baik penggantung maupun tongkat pemikul harus kuat.

Posisi duduk

  • Tinggi alas duduk sebaiknya dapat disetel antara 38 dan 48 cm.
  • Kursi harus stabil dan tidak goyang atau bergerak
  • Kursi harus memungkinkan cukup kebebasan bagi gerakan petugas

Posisi berdiri

  • Berdiri tidak lebih dari 6 jam
  1. Bahaya Psikososial

Di antara berbagi ancaman bahaya yang timbul akibatpekerjaan di rumah sakit, faktor psikososial juga memerlukan perhatian antara lain :

  • Stress, yaitu ancaman fisik dan psikologis dari faktor lingkungan terhadap kesejahteraan individu. Stress dapat disebabkan oleh :
  • Tuntutan pekerjaan

Beban kerja yang berlebihan maupun yang kurang, tekanan waktu, tanggungjawab yang berlebihan maupun yang kurang.

  • Dukungan dan kendala

Hubungan yang tidak baik dengan atasan, teman sekerja, adanya berita yang tidak dikehendaki/gosip, adanya kesulitan keuangan, dll

Manifestasi klinik : depresi, ansietas, sakit kepala, keluhan dan kejenuhan, gangguan pencernaan dan gangguan fungsi organ lainnya.

Pengendalian :

  • Menjaga kebugaran jasmani dari pekerja.
  • Kegiatan – kegiatan yang menimbulkan rasa menyenangkan dalam bekerja, misalnya adanya makan siang bersama, adanya kegiatan piknik bersama.

 

  1. Keselamatan dan Kecelakaan Kerja

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara – cara melakukan pekejaan. Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga oleh karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih – lebih dalam bentuk perencanaan. Beberapa bahaya potensial untuk terjadinya kecelakaan kerja di instalasi pencucian.

  • Kebakaran

Kebakaran terjadi apabila terdapat tiga unsur bersama – sama. Unsur – unsur tersebut adalah zat asam, bahan yang mudah terbakar dan panas. Bahan – bahan yang mudah terbakar misalnya bahan yang ada pada mesin cuci.

Penaggulangan :

  • Legislatif
  • Mangacu pada UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
  • Sisitem penyimpanan yang baik terhadap bahan – bahan yang mudah terbakar
  • Pengawasan : pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebaaran dilakukan secara terus menerus
  • Jalan untuk menyelamatkan diri

Secara ideal semua bangunan harus memiliki sekurang kurangnya 2 jalan penyelamatan diri pada 2 arah yang bertentangan terhadap setiap kebakaran yang terjadi, sehingga tak seorangpun terpaksa bergerak ke arah api untuk menyelamatkan demikian harus dipelihara bersih, tidak terhalang oleh barang – barang, cukup lebar, mudah terlihat dan diberi tanda – tanda arah yang jelas.

  • Perlengkapan pemadam dan penanggulangan kebakaran
  • Alat – alat pemadam dan penanggulangan kebakaran meliputi 2 jenis :
  • Terpasang tetap di tempat
  • Dapat bergerak atau dibawa

Alat – alat pemadam kebakaran harus ditempatkan pada tempat–tempat yang rawan terjadi kebakaran, mudah terlihat dan mudah diambil

  • Terpeleset/terjatuh
    • Terpeleset/terjatuh pada lantai yang sama adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi pada instalasi pencucian
    • Walaupun jarang terjadi kematian tetapi dapat mengakibatkan cedera yang berat seperti fraktura, dislokasi, salah urat, memar otak
    • Penanggulangan :
  • Jangan memakai sepatu dengan hak tinggi, sol yang rusak atau memakai tali sepatu yang longgar
  • Konstruksi lantai harus rata dan sedapat mungkin dibuat dari bahan yang tidak licin
  • Pemeliharaan lantai :
  • Lantai harus selalu dibersihkan dari kotoran – kotoran seperti pasir, debu, minyak yang memudahkan terpeleset
  • Lantai yang cacat misalnya banyak lubang atau permukaannya miring harus segera diperbaiki.

Telah dibahas masalah-masalah kesehatan kerja di instalasi pencucian, diharapkan ini dapat membantu petugas untuk memahami masalah kesehatan kerja dan dapat melakukan upaya antisipasi terhadap akibat yang ditimbulkannya sehingga tercapai budaya sehat dalam bekerja.

Faktor Bahaya yang Mempengaruhi K3 di Instalasi Laundry

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan kerja telah dijelaskan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya sehingga diperoleh produktivitas kerja yang optimal. Untuk itu setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja, dan ini juga telah diatur dalam pasal tersebut.

Rumah Sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit mempunyai beberapa unit instalasi salah satunya unit laundry. Unit laundry adalah salah satu pelayanan penunjang non medis yang mempunyai resiko terjadinya kecelakaan atau gangguan kerja. Faktor resiko tersebut yaitu faktor fisik, faktor kimia, faktor biologi, faktor fisiologi (ergonomi) dan faktor mental-psikologis terhadap K3 tenaga kerja. Variasi, ukuran, dan kelengkapan peralatan pada unit laundry menentukan keselamatan dan kesehatan kerja pada tenaga kerja (Depkes RI, 2004).

A. Faktor Fisik
Beberapa bahaya fisik di laundry di Rumah Sakit adalah :

1. Kebisingan
Kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki. Kebisingan ditempat kerja adalah semua bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari mesin mesin yang bergerak yang berada ditempat kerja (Suma’mur, 1996). NAB (Nilai Ambang Batas) ditempat kerja adalah nilai rata-rata yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu yang tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Ketentuan tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No : KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

2. Pencahayaan
Menurut Suma’mur (1996) Pencahayaan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas, cepat tanpa upayaupaya tidak perlu. Penerangan yang memadai memberikan kenyamanan pada tenaga kerja. Sehingga tidak menimbulkan gangguan atau kelelahan pengelihatan selama bekerja. Apabila penerangan kurang maka akan menimbulkan kelelahan
mata yang dapat mengakibatkan :
a) Banyak terjadi kelelahan
b) kualitas kerja rendah dan produktivitas menurun
c) Kecelakaan kerja
Untuk menghindari terjadinya gangguan pada mata, maka pencahayaan harus disesuaikan dengan Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun1964 tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja, untuk membedakan bahan yang kasar (linen, pakaian, sprei dam selimut) intensitas penerangannya minimal 50 lux.

3. Suhu
Suhu tubuh manusia dipertahnkan hampir menetap atau mendekati normal oleh suatu sistem pengatur suhu tubuh yang sempurna sehingga manusia dapat menyesuaikan diri dengan perubahan suhu yang terjadi di luar tubuhnya. Suhu menetap ini sebagai akibat dari metabolisme dan pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan sekitarnya. Panas yang diakibatkan metabolisme sangat tergantung dari kegiatan tubuh. Kemampuan untuk menyesuaikan diri pada batasnya yaitu tubuh manusia masih dapat menyesuaikan dirinya dengan temperatur luar jika perubahan dari temperatur luar tidak lebih dari 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin.
Seorang tenaga kerja akan mampu bekerja efisien dan produktif bila lingkungan tempat kerjanya nyaman atau dapat dikatakan efisieni kerja optimal dalam daerah nikmat kerja, tidak dingin dan tidak panas. Suhu yang tinggi merupakan beban kerja tambahan dan sangat berpengaruh bila tenaga kerja tersebut melakukan kerja fisik. Apabila suhu di ruang kerja mencapai 40 C dan menggunakan peralatan yang panas dapat menyebabkan keluarnya banyak keringat yang mempercepat timbulnya kelelahan, dapat berakibat menurunnya kemampuan kerja dan produktivitas kerja (Suma’mur, 1996).
Berdasarkan Kepmenkes No. Kep. 1405/Menkes/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Nilai standart untuk suhu yaitu 18-28 C. Tata cara pelaksanaan yaitu :
1. Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
2. Bila suhu udara >28 C perlu menggunakan alat penata udara seperti AC, kipas angin.
3. Bila suhu udara luar <18 C perlu menggunakan pemanas ruang.

B. Faktor Kimia
Faktor kimia yang ada di unit laundry antara lain :

1) Debu
Pada unit laundry debu berasal dari laundry itu sendiri atau dari linen-linen. Debu sangat mudah masuk pada saluran pernapasan yang lama kelamaan akan mengganggu kesehatan, untuk itu kadar debu pada lingkungan kerja ditetapkan menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE. 01/MEN/1997 tentang NAB
Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja adalah 3 mg/m3 untuk debu respirable dan 10 mg/m3 untuk debu total. Dalam buku pedoman linen RS dari Depkes RI dijelaskan bahwa debu linen (cotton dust) yang sesuai NAB adalah 0,2 mg/m3

2) Bahan Kimia
Bahan-bahan kimia yang ada di unit laundry berasal dari detergen, desinfektan, zat pemutih, alkali, bleach, sour, dan softener. Tingkat resiko yang diakibatkan tergantung dari lama pernapasan atau lama pemajanan. Meskipun zat kimia sangat toxic sudah dilarang dan dibatasi pemakaiannya, pemajanan terhadap zat kimia yang membahayakan tidak dapat dielakkan (Depkes RI, 2004).

C. Faktor Biologi
Faktor biologi merupakan penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh mikroorganisme hidup seperti bakteri, virus, dan jamur. Tenaga kerja yang menangani linen kotor selalu kontak dengan bahan dan menghirup
udara yang tercemar kuman patogen. Penelitian bakteriologi pada unit laundry menunjukkan bahwa jumlah total bakteri meningkat 50 kali selama periode waktu sebelum cucian mulai diproses (Depkes RI, 2004).

D. Faktor Fisiologis
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya terhadap sarana kerja akan menentukan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kerja di setiap jenis pekerjaan. Posisi tubuh yang salah atau tidak alamiah dapat menimbulkan
kesulitan dalam melaksanakan kerja, mengurangi ketelitian, dan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien. Hal ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologi (Depkes RI, 2004)
Faktor fisiologis dapat dikatakan juga suatu ergonomi yaitu penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka, 2004)

E. Faktor Mental-Psikologis
Berdasarkan Depkes RI (2004), faktor psikologis ini mempunyai peranan besar dalam menimbulkan kelelahan. Sering kali tenaga kerja tidak mengerjakan apapun juga, tetapi mereka merasa lelah. Hal ini mungkin disebabkan adanya konflik mental. Konflik mental mungkin didasarkan atas pekerjaan sendiri, teman sekerjanya, atasannya, atau karena kejadian di rumah dan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan adanya konflik mental tersbut lama kelamaan akan menimbulkan stres kerja. Stres yaitu ancaman fisik dan psikologis dari faktor lingkungan terhadap kesejahteraan individu. Stres dapat disebabkan oleh :
1) Tuntutan pekerjaan
Beban kerja yang berlebih maupun yang kurang, tekanan waktu, tanggung jawab yang berlebih maupun kurang.
2) Dukungan dan kendala
Hubungan yang tidak baik dengan atasan, teman sekerja, adanya berita yang tidak dikehendaki, adanya kesulitan keuangan.

Faktor bahaya di tempat kerja adalah keadaan yang tidak mungkindihindari. Timbulnya kecelakaan kerja serta penyakit kerja dapat mempengaruhi upaya peningkatan produktivitas dan menyebabkan kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kondisi tersebut maka perlu adanya upaya pengendalian terhadap faktor bahaya. Upaya pengendalian dilakukan untuk mengurangi resiko sampai batas-batas yang dapat diterima berdasarkan ketentuan, peraturan dan standar yang berlaku. Pengendalian resiko dapat dilakukan dengan
mengikuti pendekatan hirarki pengendalian. Hirarki pengendalian adalah suatu urutan-urutan dalam pencegahan dan pengendalian resiko yang mungkin timbul
(Tarwaka, 2008).
Adanya upaya pengendalian secara dini dapat digunakan sebagai :
a. Informasi tentang berbagai jenis bahaya dan resiko yang ada di tempat kerja beserta tingkat yang potensialnya untuk menimbulkan kecelakaan.
b. Penentu strategi dan jenis pengendalian yang berhubungan dengan peraturan anggaran K3.
c. Rencana penyusun program keadaan darurat.
d. Penentu strategi dan jenis pengendalian yang berhubungan dengan peraturan anggaran K3.
e. Rencana penyusun program keadaan darurat.
Berdasarkan Depkes RI (2004), unit laundry merupakan pelayanan penunjang non medis yang didalamnya terdapat faktor bahaya. Faktor bahaya tersebut meliputi faktor fisik meliputi kebisingan, penerangan, faktor kimia meliputi debu dan bahan kimia, faktor biologis seperti jamur, bakteri, dan virus, faktor fisiologis seperti konstruksi mesin dan sikap kerja, faktor mental-psikologis seperti suasana kerja dan hubungan kerja. Faktor bahaya yang tidak dikendalikan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sehingga mengganggu proses kerja.
Dilakukan pengendalian terhadap faktor bahaya pada unit laundry dengan tujuan mengurangi timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta kerugian yang tidak diharapkan (Tarwaka, 2008). Upaya pengendalian tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Eliminasi
Pengendalian secara eliminasi merupakan pengendalian resiko yang bersifat permanen. Eliminasi adalah cara pengendalian resiko bahaya yang paling baik, karena resiko terjadinya kecelakaan dan sakit akibat potensi bahaya ditiadakan (Tarwaka, 2008).
b. Substitusi
Substitusi adalah menggantikan bahan-bahan dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau lebih aman sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih dapat diterima (Tarwaka, 2008).
Menurut Suma’mur (1996), substitusi adalah mengganti bahan yang lebih bahaya dengan bahan yang kurang bahaya atau tidak berbahaya sama sekali.
c. Engineering
Pengendalian secara engineering dapat dilakukan dengan merubah struktur objek kerja untuk mencegah seseorang terpapar kepada potensi bahaya, seperti pemberian pengaman mesin, pembuatan struktur pondasi mesin dengan cor beton, pemberian alat bantu mekanik, pemberian obsorber suara pada dinding ruang mesin yang menghasilkan kebisingan tinggi. Pada pengendalian engineering dapat juga dilakukan dengan ventilasi umum (Tarwaka, 2008)
d. Administrasi
Administrasi dilakukan dengan menyediakan suatu sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya. Metode ini meliputi;rekritmen tenaga kerja baru sesuai dengan jenis pekerjaan yang
ditangani, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi kerja untuk mengurangi kebosanan dan kejenuhan, penerapan prosedur kerja dan pengaturan kembali jadwal Kerja (Tarwaka, 2008).
e. Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri (APD) secara umum merupakan sarana pengendalian yang digunakan untuk jangka pendek dan bersifat sementara mana kala sistem pengendalian yang lebih permanen belum dapat diimplementasikan. APD
merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian resiko ditempat kerja (Tarwaka, 2008).

Upaya Pengendalian Terhadap Faktor Bahaya Pada Unit Laundry
Unit Laundry merupakan pelayanan penunjang non medis yang berperan penting di rumah sakit. Kegiatan unit laundry tidak lepas dari adanya faktor bahaya baik faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, dan faktor mental psikologis.
Faktor bahaya yang tidak dikendalikan menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian agar tenaga Instalasi laundry kerja sehat, aman, nyaman, dalam bekerja dan proses tidak terganggu (Depkes RI,2004).
Upaya pengendalian terhadap faktor bahaya melalui tahap eliminasi, substitusi, engineering, administrasi, dan APD, upaya pengendalian yang dilakukan seperti; perawatan dan perbaikan mesin kerja yang rusak, perbaikan sistem ventilasi baik yang alami maupun buatan, pengaturan pemaparan kerja, penggunaan kipas angin, pemadaman lampu, tata cara kerja, penyedotan debu, pengelolaan lantai, pembagian jadwal kerja dan penggunaan alat pelindung diri

KUALITAS AIR PADA PROSES PENCUCIAN DI LAUNDRY RUMAH SAKIT DAN HOTEL

Air yang digunakan untuk mencuci mempunyai standart air yang bersih berdasarkan Permenkes No. 416 Tahung 1992 dan standart khusus bahan kimia dengan penekanan tidak adanya  :

 

  1. Harness – Garam ( Calium – Carbonate dan Chloride )

Standart baku mutu : 0 – 990 ppm

 

Tingginya konsentrasi garam dalam air menghambat kerja bahan kimia pencuci sehingga proses pencucian tidak bekerja sebagaimana mestinya. Garam akan mengubah warna linen putih menjadi keabu – abuan dan linen warna akan cepat pudar. Mesin cuci akan berkerak ( Scale Forming ) sehingga dapat menghambat saluran – saluran air.

 

  1. Iron ( Fe ) – Besi

Standart baku mutu : 0 – 0,1 ppm

 

Kandungan zat besi pada air mempengaruhi konsentrasi bahan kimia dan proses pencucian. Linen putih akan menjadi kekuning – kuningan dan linen warna akan cepat pudar, selain itu mesin cuci akan berkarat.

 

Kedua polutan tersebut ( haeness dan besi ) dapat merusak linen, maka harus dilakukan proses pengontrolan pH dan suhu air yang dialirkan ke seluruh ruangan maupun instalasi untuk dinetralkan. Serta setian satu bulan sekali dilakukan pengetesan kandungan air dari berbagai zat, sehingga kualitas air untuk pencucian di instalasi laundry sudah sesuai standart dan dilakukan penetralan air.

Download artikelnya disini kualitas-air-pada-proses-pencucian-di-laundry-rumah-sakit-dan-hotel

SEMOGA BERMANFAAT

Identifikasi dan Analisis Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Instalasi Laundry

Identifikasi risiko dilakukan dengan menggunakan metode JSA (Job Safety Analysis) pada setiap tahapan proses kerja, kemudian dilakukan Analisis risiko dengan menggunakan metode kualitatif untuk menentukan nilai Consequency (konsekuensi) dan likelihood (kemungkinan) dari setiap risiko.

Nilai tersebut kemudian dihitung dan dibandingkan dengan tabel matrik risiko metode kualitatif untuk mendapatkan tingkatan risiko (Risk Rating)

Silahkan klik tautan berikut untuk informasi lebih lanjut analisis-keselamatan-kerja-laundry