DASAR-DASAR DETERGENSI

DASAR-DASAR DETERGENSI

Deterjen dapat disedkripsikan sebagai “agen pembersih.” Deterjen dapat berkisar dari air bersih hingga pembersih sintetis dengan perkembangan terbaru. Namun, semua deterjen memiliki kemampuan dasar untuk wetting, dispersi, suspensi, emulsifikasi, dan penetrasi. Masing-masing deterjen menunjukkan tingkatan karakteristik yang berbeda. Masing-masing karakteristik menetukan keefektivitasan deterjen yang digunakan.

Wetting

Unsur wetting menjadikan pembersihan untuk permukaan yang lebih luas dilakukan dalam satu waktu yang bersamaan. Molekul-molekul air pada permukaan memiliki kecenderungan untuk melekat satu sama lain dan mengisi ruang terkecil yang tersedia. Efek ini dinamakan tekanan permukaan. Ketika unsur wetting dimasukkan ke dalam air, hal tersebut akan membuat molekul-molekul air ‘mengendur’, mengakibatkan air akan memasuki permukaan yang lebih luas.

Dispersi dan Suspensi

Bersamaan dengan unsur wetting yang menjadikan penetrasi air lebih luas pada permukaan, deterjen terdispersi dan mengangkat kotoran lalu menahan mereka dalam suspensi sehingga kotoran bisa dengan mudah dihilangkan. Hal ini dapat mencegah kotoran mengendap kembali pada permukaan yang telah dibersihkan.

Emulsifikasi

Pengemulsi merupakan zat deterjen additif yang menguraikan lemak seperti minyak dan oli serta mengubah kotoran tersebut menjadi larutan. Karena itulah mereka dapat dengan mudah dihilangkan pada saat pembersihan.

Penetrasi

Penetrasi adalah karakteristik dari deterjen untuk mencapai bagian bawah area yang terkena kotoran lalu “melepaskan” kotoran dari permukaan. Karakteristik ini juga membantu deterjen untuk bekerja menguraikan kotoran di area yang sudah terkena kotoran tersebut.

DETERJEN

Anion

Deterjen Anion memiliki komposisi yang sederhana yang sama seperti sabun mandi, seperti Ivory, yang biasanya digunakan di rumah.

Deterjen Anion cukup baik untuk digunakan dalam pembersihan permukaan. Namun, kemampuan mereka dalam membunuh bakteri tidak sebaik unsur kation, dan efektivitasnya dapat dipengaruhi perubahan pH dengan mudah.

Zat anion cenderung memproduksi busa, yang akan meninggalkan residu pada permukaan dan menghasilkan permasalahan noda baru. Masalah lain pada deterjen anion adalah dari waktu ke waktu, zat anion akan membentuk lapisan pada permukaan, yang membutuhkan pembersihan.

Anion biasanya digunakan untuk wetting, detergensi, emulsifikasi, dan fungsi lain yang berhubungan dengan aktivitas permukaan.

Kation

Deterjen Kation memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan anion. Kation dikenal dengan pembersihan yang lebih lembut, dan beberapa zat kation sangat baik untuk germisida dan fungisida. Kation tidak bisa digunakan bersamaan dengan anion dan biasanya diformulasikan dengan deterjen nonion untuk membuat sebuah deterjen serbaguna/disinfektan.

Nonion

Deterjen nonion memiliki sifat detergensi yang paling baik dan sangat stabil baik di air keras ataupun air asam. Nonion tidak bersifat germisida dan memiliki kemampuan rendah dalam membentuk busa. Nonion juga tidak meninggalgan lapisan pada permukaan , jadi tidak dipelukan proses pembilasan.

Kation dan nonion dikombinasikan untuk meningkatkan proses pembersihan dan diformulasikan untuk menyediakan deterjen desinfektan dalam satu langkah.

Mengapa deterjen dikombinasikan dengan desinfektan?

Kotoran yang ditemukan di permukaan memberikan perlindungan bagi mikroorganisme. Bakteri biasanya ditemukan dalam bentuk kumpulan, daripada dalam bentuk sel tunggal. Deterjen yang baik akan menghilangkan kotoran, bukan hanya memisahkan mikroorganisme dari perlindungannya namun juga menghancurkan kumpulan bakterinya. Hal ini menjadikan desinfektan untuk melakukan kontak langsung dengan bakteri dan meningkatkan tingkat penghancurannya. Untuk alasan ini, deterjen yang baik dengan disinfektan yang buruk lebih bagus dibandingkan deterjen yang buruk dengan disinfektan yang baik.

Iodophors

Iodophors adalah golongan disinfektan dengan iodin sebagai bahan dasarnya. Mereka sangat efektif dalam menghilangkan spektrum yang luas dari mikroorganisme jika tingkat pH dari produk tersebut kurang lebih 3.5. Hasil pembersihan dari iodophors tidak baik ketika mereka diformulasikan untuk menjadi disinfektan yang efektif. Iodophors berubah menjadi tidak aktif jika mereka melakukan kontak dengan deterjen anion. Produk ini dapat menodai kulit dan pakaian serta dapat mengganggu evaluasi tes kimia.

Halogen

Disinfektan berbahan halogen adalah disinfektan yang sering ditemukan untuk pemakaian rumahan, seperti pemutih klorin. Iodin yang diformulasikan menjadi iodophors juga merupakan halogen. Halogen harus digunakan dengan permukaan yang bersih, karena mereka menjadi tidak aktif oleh kotoran yang berasal dari protein. Mereka bersifat korosif terhadap metal dan gunakan bersama air dingin untuk menjaga karakter disinfekinya. Mereka harus dibuat baru setiap penggunaan.

Phenols

Phenols adalah disinfektan yang berfungsi sangat baik pada pH 6-7. Phenolics tidak bisa digunakan bersama dengan deterjen nonion atau kation. Rasio deterjen yang dicampurkan dnegan phenol harus tetap sedikit dikarenakan efektivitas terhadap mikroorganisme akan banyak berkurang jika rasio deterjen terlalu tinggi. Phenol memiliki efektivitas melawan mikroba tuberkulosis. Phenol dapat diabsorbsi oleh kulit dan kontak langsung dengan permukaan yang bersih dapat berakhir dengan iritasi kulit. Pemaparan langsung terhadap kulit oleh produk dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan iritasi dan keracunan. Mengkombinasikan phenols dengan deterjen anion cenderung akan menonaktifkan phenol yang akan berakibat pada hasil pembersihan yang dilakukan untuk mempertahankan keberhasilan. Phebol tidak boleh digunakan dalam lingkungan dimana anak-anak dapat melakukan kontak langsung dengan permukaan yang bersih. Phenol memiliki aroma yang kuat dan dapat merusak lantai.

Quarternaries (Kuartener/Surfaktan)

Pembersih dengan bahan dasar quartenary ammonium merupakan deterjen/disinfektan yang sangat efektif. Kuartener diformulasikan dengan deterjen nonion dan tidak bisa dicampur dengan deterjen anion. Mereka bekerja sangat baik pada pH alkali 9-10. Kuartener memiliki tingkat toksin dan iritasi yang rendah serta memberikan tingkat kemampuan disinfektan yang bagus dan luas terhadap bakteri, fungi dan virus. Disinfektan ini tidak bernoda dan tidak korosif. Kuartener tidak efektif dalam melawan mikroba tuberkulosis, namun beberapa formula efektif terhadap HVB dan HIV, selain itu formula tipe ini seharusnyadipertimbangkan untuk menjadi pembersih dari darah atau tumpahan zat lain yang berpotensi menular.

Perhatikan selalu prosedur yang tepat dalam penggunaan produk disinfektan ini. Ikuti tata cara yang dimiliki oleh fasilitas anda dan selalu gunakan peralatan yang tepat saat menggunakan disinfektan.

BAGAIMANA CARA MEMILIH DETERJEN/DISINFEKTAN

Semua produk memiliki keunggulan yang beragam untuk dipertimbangkan.

Analisa kebutuhan anda:

  • Kecocokan : Cari tahu apakah deterjen/disinfektan yang digunakan cocok dan efektif dalam pencampuran
  • Klaim produk : Setiap formulasi memiliki keunikan tersendiri; keterangan yang terdapat pada setiap label produk harus diperiksa dan dipertimbangkan untuk kebutuhan pembersihan dan disinfektan fasilitas anda.
  • Penggunaan : Tentukan apakah disinfektan akan digunakan untuk rumah sakit atau institusi
  • Air keras : Cari tahu bagaimana disinfektan berinteraksi dengan air keras

Memilih produk yang paling efektif

Spektrum yang luas : Cari produk yang dapat membunuh berbagai macam mikroorganisme sekaligus. Produk itu bisa berbentuk bakterisidal, virusidal, dan fungisidal. Bahkan mikroorganisme yang tidak dapat merugikan manusia dapat menyerang yang lain dan memproduksi zat kimia yang memunculkan bau tidak sedap, korosi atau noda.

Kemampuan zat pembersih : Pilih deterjen yang efektif. Hal ini akan membantu disinfektan untuk melakukan tugasnya dengan seksama menghancurkan mikroorganisme.

Mudah untuk digunakan :Pilih kombinasi efektif dari deterjen/disinfektan yang akan melakukan proses pembersihan dan pengendalian bau yang tidak sedap sekaligus.

KESIMPULAN

Bahan referensi ini telah mendiskusikan pentingnya disinfeksi yang tepat untuk mencegah penyebaran penyakit yang menular. Dengan memahami konsep mikrobiologi dan bagaimana mikroorganisme berkembang dan menyebar, anda dapat mengetahui lebih baik tentang pentingnya proses pembersihan yang efektif dan disinfeksi permukaan. Mengaplikasikan pencegahan universal dalam setiap aspek pekerjaan anda dan memilih deterjen serta disinfektan yang tepat dapat membantu anda dalam pencegahan menyebarnya penyakit yang menular.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *