DEFINISI DAN BAKU MUTU LIMBAH KEGIATAN RUMAH SAKIT

DEFINISI DAN BAKU MUTU LIMBAH KEGIATAN RUMAH SAKIT

Definisi baku mutu lingkungan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 menyatakan ”bahwa baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar mahkluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup”.

 

Limbah cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik, kimia, dan biologi (E.W steel,1975). Limbah rumah sakit mengandung berbagai macam  mikroorganisme, tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik). Tentu saja dari jenis-jenis mikroorganisme tersebuat ada yang bersifat patogen. Limbah rumah sakit seperti halnya limbah lain yang akan mengandung bahan-bahan organik dan anorganik, yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji air kotor pada umumnya seperti BOD, COD, TSS, pH, phospat dan lain-lain.

Berikut parameter pengujian beserta definisinya :

A. FISIKA

  1. Zat Padat Tersuspensi (TSS), adalah semua zat padat (pasir, lupurdan tanah liat) atau partikel – partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplakton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detrius dan partikel-pertikel. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 200 mg/L.
  2. Zat Padat Terlarut (TDS), adalah suatu ukuran kandungan kombinasidari semua zat-zat anorganik dan organik yang terdapat di dalam suatu cairan sebagai molekul yang terionkan atau bentuk mikrogranula (sol koloida) yang terperangkap. baku mutu yang ditetapkan adalah 2000 mg/L

B. KIMIA

  1. pH, adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dari larutan. Pengukuran pH (potensial Hidrogen) akan mengungkapkan jika larutan bersifat asam atau alkali (atau basa). Jika larutan tersebut memilki jumlah moekul asam dan basa yang sama pH dianggap netral. pH dianggap netral jika memenuhi baku mutu 6 – 9
  2. Surfactan Anion (MBAS) Detergen, adalah zat yang menyebakan turunnya tegangan permukaan cairan khususnya air. Ini menyebabkan pembentuka gelembung da pengaruh permukaan lainnya yang memungkinkan zat-zat ini bertindak sebagai zat pembersih. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 10 mg/L.
  3. Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan, dinyatakan dengan BOD5 hari pada suhu 20 °C dalam mg/liter atau ppm. Pemeriksaan BOD5 diperlukan untuk menentukan beban pencemaran terhadap air buangan domestik atau industri juga untuk mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air tercemar. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air tercemar oleh zat organik maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses biodegradable berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan pada badan air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau busuk. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 50 mg/L
  4. Chemical Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Parameter baku mutu yang ditetapkan adalah 80 mg/L
  5. Phospat, adalah sumber utama unsur kalium dan nitrogen yang tidak larut dalam air, Senyawa Phospat dalam air limbah akan menimbulkan permasalahan bagi lingkungan. Keberadaan Phospat yang berlebihan didalam air menyebabkan suatu fenomena yang disebut Eutofikasi (pengkayaan nutrisi), untuk mencegah kejadian tersebut, air limbah yang akan dibuang harus diolah terlebih dahulu untuk mengurangi kandungan fosfat sampai pada nilai tertentu.

Berdasarkan kebijakan pemenuhan baku mutu air limbah bagi kegiatan Rumah Sakit sesuai PERMEN LH No.6 Tahun 2013 tentang program pengelolaan lingkungan hidup, maka parameter phospat tidak dijadikan dasar penilaiaan tingkat penaatan pemenuhan baku mutu tetapi tetap diwajibkan pemantauan secara rutin.

blh-prov-jateng-kebijakan-pemenuhan-baku-mutu-air-limbah-rs

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *