Faktor Bahaya yang Mempengaruhi K3 di Instalasi Laundry

Faktor Bahaya yang Mempengaruhi K3 di Instalasi Laundry

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan kerja telah dijelaskan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya sehingga diperoleh produktivitas kerja yang optimal. Untuk itu setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja, dan ini juga telah diatur dalam pasal tersebut.

Rumah Sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit mempunyai beberapa unit instalasi salah satunya unit laundry. Unit laundry adalah salah satu pelayanan penunjang non medis yang mempunyai resiko terjadinya kecelakaan atau gangguan kerja. Faktor resiko tersebut yaitu faktor fisik, faktor kimia, faktor biologi, faktor fisiologi (ergonomi) dan faktor mental-psikologis terhadap K3 tenaga kerja. Variasi, ukuran, dan kelengkapan peralatan pada unit laundry menentukan keselamatan dan kesehatan kerja pada tenaga kerja (Depkes RI, 2004).

A. Faktor Fisik
Beberapa bahaya fisik di laundry di Rumah Sakit adalah :

1. Kebisingan
Kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki. Kebisingan ditempat kerja adalah semua bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari mesin mesin yang bergerak yang berada ditempat kerja (Suma’mur, 1996). NAB (Nilai Ambang Batas) ditempat kerja adalah nilai rata-rata yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu yang tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Ketentuan tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No : KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

2. Pencahayaan
Menurut Suma’mur (1996) Pencahayaan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas, cepat tanpa upayaupaya tidak perlu. Penerangan yang memadai memberikan kenyamanan pada tenaga kerja. Sehingga tidak menimbulkan gangguan atau kelelahan pengelihatan selama bekerja. Apabila penerangan kurang maka akan menimbulkan kelelahan
mata yang dapat mengakibatkan :
a) Banyak terjadi kelelahan
b) kualitas kerja rendah dan produktivitas menurun
c) Kecelakaan kerja
Untuk menghindari terjadinya gangguan pada mata, maka pencahayaan harus disesuaikan dengan Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun1964 tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja, untuk membedakan bahan yang kasar (linen, pakaian, sprei dam selimut) intensitas penerangannya minimal 50 lux.

3. Suhu
Suhu tubuh manusia dipertahnkan hampir menetap atau mendekati normal oleh suatu sistem pengatur suhu tubuh yang sempurna sehingga manusia dapat menyesuaikan diri dengan perubahan suhu yang terjadi di luar tubuhnya. Suhu menetap ini sebagai akibat dari metabolisme dan pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan sekitarnya. Panas yang diakibatkan metabolisme sangat tergantung dari kegiatan tubuh. Kemampuan untuk menyesuaikan diri pada batasnya yaitu tubuh manusia masih dapat menyesuaikan dirinya dengan temperatur luar jika perubahan dari temperatur luar tidak lebih dari 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin.
Seorang tenaga kerja akan mampu bekerja efisien dan produktif bila lingkungan tempat kerjanya nyaman atau dapat dikatakan efisieni kerja optimal dalam daerah nikmat kerja, tidak dingin dan tidak panas. Suhu yang tinggi merupakan beban kerja tambahan dan sangat berpengaruh bila tenaga kerja tersebut melakukan kerja fisik. Apabila suhu di ruang kerja mencapai 40 C dan menggunakan peralatan yang panas dapat menyebabkan keluarnya banyak keringat yang mempercepat timbulnya kelelahan, dapat berakibat menurunnya kemampuan kerja dan produktivitas kerja (Suma’mur, 1996).
Berdasarkan Kepmenkes No. Kep. 1405/Menkes/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Nilai standart untuk suhu yaitu 18-28 C. Tata cara pelaksanaan yaitu :
1. Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
2. Bila suhu udara >28 C perlu menggunakan alat penata udara seperti AC, kipas angin.
3. Bila suhu udara luar <18 C perlu menggunakan pemanas ruang.

B. Faktor Kimia
Faktor kimia yang ada di unit laundry antara lain :

1) Debu
Pada unit laundry debu berasal dari laundry itu sendiri atau dari linen-linen. Debu sangat mudah masuk pada saluran pernapasan yang lama kelamaan akan mengganggu kesehatan, untuk itu kadar debu pada lingkungan kerja ditetapkan menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE. 01/MEN/1997 tentang NAB
Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja adalah 3 mg/m3 untuk debu respirable dan 10 mg/m3 untuk debu total. Dalam buku pedoman linen RS dari Depkes RI dijelaskan bahwa debu linen (cotton dust) yang sesuai NAB adalah 0,2 mg/m3

2) Bahan Kimia
Bahan-bahan kimia yang ada di unit laundry berasal dari detergen, desinfektan, zat pemutih, alkali, bleach, sour, dan softener. Tingkat resiko yang diakibatkan tergantung dari lama pernapasan atau lama pemajanan. Meskipun zat kimia sangat toxic sudah dilarang dan dibatasi pemakaiannya, pemajanan terhadap zat kimia yang membahayakan tidak dapat dielakkan (Depkes RI, 2004).

C. Faktor Biologi
Faktor biologi merupakan penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh mikroorganisme hidup seperti bakteri, virus, dan jamur. Tenaga kerja yang menangani linen kotor selalu kontak dengan bahan dan menghirup
udara yang tercemar kuman patogen. Penelitian bakteriologi pada unit laundry menunjukkan bahwa jumlah total bakteri meningkat 50 kali selama periode waktu sebelum cucian mulai diproses (Depkes RI, 2004).

D. Faktor Fisiologis
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya terhadap sarana kerja akan menentukan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kerja di setiap jenis pekerjaan. Posisi tubuh yang salah atau tidak alamiah dapat menimbulkan
kesulitan dalam melaksanakan kerja, mengurangi ketelitian, dan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien. Hal ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologi (Depkes RI, 2004)
Faktor fisiologis dapat dikatakan juga suatu ergonomi yaitu penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka, 2004)

E. Faktor Mental-Psikologis
Berdasarkan Depkes RI (2004), faktor psikologis ini mempunyai peranan besar dalam menimbulkan kelelahan. Sering kali tenaga kerja tidak mengerjakan apapun juga, tetapi mereka merasa lelah. Hal ini mungkin disebabkan adanya konflik mental. Konflik mental mungkin didasarkan atas pekerjaan sendiri, teman sekerjanya, atasannya, atau karena kejadian di rumah dan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan adanya konflik mental tersbut lama kelamaan akan menimbulkan stres kerja. Stres yaitu ancaman fisik dan psikologis dari faktor lingkungan terhadap kesejahteraan individu. Stres dapat disebabkan oleh :
1) Tuntutan pekerjaan
Beban kerja yang berlebih maupun yang kurang, tekanan waktu, tanggung jawab yang berlebih maupun kurang.
2) Dukungan dan kendala
Hubungan yang tidak baik dengan atasan, teman sekerja, adanya berita yang tidak dikehendaki, adanya kesulitan keuangan.

Faktor bahaya di tempat kerja adalah keadaan yang tidak mungkindihindari. Timbulnya kecelakaan kerja serta penyakit kerja dapat mempengaruhi upaya peningkatan produktivitas dan menyebabkan kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kondisi tersebut maka perlu adanya upaya pengendalian terhadap faktor bahaya. Upaya pengendalian dilakukan untuk mengurangi resiko sampai batas-batas yang dapat diterima berdasarkan ketentuan, peraturan dan standar yang berlaku. Pengendalian resiko dapat dilakukan dengan
mengikuti pendekatan hirarki pengendalian. Hirarki pengendalian adalah suatu urutan-urutan dalam pencegahan dan pengendalian resiko yang mungkin timbul
(Tarwaka, 2008).
Adanya upaya pengendalian secara dini dapat digunakan sebagai :
a. Informasi tentang berbagai jenis bahaya dan resiko yang ada di tempat kerja beserta tingkat yang potensialnya untuk menimbulkan kecelakaan.
b. Penentu strategi dan jenis pengendalian yang berhubungan dengan peraturan anggaran K3.
c. Rencana penyusun program keadaan darurat.
d. Penentu strategi dan jenis pengendalian yang berhubungan dengan peraturan anggaran K3.
e. Rencana penyusun program keadaan darurat.
Berdasarkan Depkes RI (2004), unit laundry merupakan pelayanan penunjang non medis yang didalamnya terdapat faktor bahaya. Faktor bahaya tersebut meliputi faktor fisik meliputi kebisingan, penerangan, faktor kimia meliputi debu dan bahan kimia, faktor biologis seperti jamur, bakteri, dan virus, faktor fisiologis seperti konstruksi mesin dan sikap kerja, faktor mental-psikologis seperti suasana kerja dan hubungan kerja. Faktor bahaya yang tidak dikendalikan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sehingga mengganggu proses kerja.
Dilakukan pengendalian terhadap faktor bahaya pada unit laundry dengan tujuan mengurangi timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta kerugian yang tidak diharapkan (Tarwaka, 2008). Upaya pengendalian tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Eliminasi
Pengendalian secara eliminasi merupakan pengendalian resiko yang bersifat permanen. Eliminasi adalah cara pengendalian resiko bahaya yang paling baik, karena resiko terjadinya kecelakaan dan sakit akibat potensi bahaya ditiadakan (Tarwaka, 2008).
b. Substitusi
Substitusi adalah menggantikan bahan-bahan dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau lebih aman sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih dapat diterima (Tarwaka, 2008).
Menurut Suma’mur (1996), substitusi adalah mengganti bahan yang lebih bahaya dengan bahan yang kurang bahaya atau tidak berbahaya sama sekali.
c. Engineering
Pengendalian secara engineering dapat dilakukan dengan merubah struktur objek kerja untuk mencegah seseorang terpapar kepada potensi bahaya, seperti pemberian pengaman mesin, pembuatan struktur pondasi mesin dengan cor beton, pemberian alat bantu mekanik, pemberian obsorber suara pada dinding ruang mesin yang menghasilkan kebisingan tinggi. Pada pengendalian engineering dapat juga dilakukan dengan ventilasi umum (Tarwaka, 2008)
d. Administrasi
Administrasi dilakukan dengan menyediakan suatu sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya. Metode ini meliputi;rekritmen tenaga kerja baru sesuai dengan jenis pekerjaan yang
ditangani, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi kerja untuk mengurangi kebosanan dan kejenuhan, penerapan prosedur kerja dan pengaturan kembali jadwal Kerja (Tarwaka, 2008).
e. Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri (APD) secara umum merupakan sarana pengendalian yang digunakan untuk jangka pendek dan bersifat sementara mana kala sistem pengendalian yang lebih permanen belum dapat diimplementasikan. APD
merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian resiko ditempat kerja (Tarwaka, 2008).

Upaya Pengendalian Terhadap Faktor Bahaya Pada Unit Laundry
Unit Laundry merupakan pelayanan penunjang non medis yang berperan penting di rumah sakit. Kegiatan unit laundry tidak lepas dari adanya faktor bahaya baik faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, dan faktor mental psikologis.
Faktor bahaya yang tidak dikendalikan menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian agar tenaga Instalasi laundry kerja sehat, aman, nyaman, dalam bekerja dan proses tidak terganggu (Depkes RI,2004).
Upaya pengendalian terhadap faktor bahaya melalui tahap eliminasi, substitusi, engineering, administrasi, dan APD, upaya pengendalian yang dilakukan seperti; perawatan dan perbaikan mesin kerja yang rusak, perbaikan sistem ventilasi baik yang alami maupun buatan, pengaturan pemaparan kerja, penggunaan kipas angin, pemadaman lampu, tata cara kerja, penyedotan debu, pengelolaan lantai, pembagian jadwal kerja dan penggunaan alat pelindung diri

4 replies
  1. 73Louanne
    73Louanne says:

    Hello admin, i must say you have hi quality content here.
    Your website can go viral. You need initial traffic only.
    How to get it? Search for: make your content go viral Wrastain’s
    tools

    Balas

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *